Rabu, 21 Desember 2011

Makalah Penemu Islam


PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Saat ini tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan ilmu pengetahuan sekarang sangat dipengaruhi oleh para ilmuwan. Banyak ilmuwan terkemuka di muka bumi ini memberikan kontribusi lebih dalam memajukan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Mereka banyak ditemukan dalam buku sejarah ilmu pengetahuan, enslikopedi, dan buku pengetahuan lainnya. Hal ini membuat siswa-siswi utamanya sekolah dasar sudah mengenal para ilmuan seperti Alexander Graham Bell penemu pesawat telepon, Aristoteles, Galileo Galilei dan banyak lainnya. Sehingga banyak siswa terkontaminasi akan ilmuan-ilmuan non islam yang sering mereka pelajari dalam dunia pendidikan. Mereka memang benar-benar  jarang dan bahkan tidak mengenal ilmuan-ilmuan muslim pencetus ilmu pengetahuan sebelum ilmuan non muslim menemukan penemuannya dalam buku-buku ajar pada pendidikan formal.
Fenomena kurang mengenal ilmuan muslim ini membuat kalangan cendikiawan muslim mulai memperkenalkan ilmuan-ilmuan muslim dalam buku ajar pendidikan agama islam di pendidikan formal. Upaya ini sebagai wujud terobosan bagi kalangan tokoh-tokoh islam membuat suatu penanaman kembali tentang penemu muslim yang mampu menjadi acuan ilmuan nasrani menemukan hasil karyanya seperti pesawat terbang, ahli bedah dan lainnya. Sebelumnya ilmuan muslim seperti Abbas Qasim Ibnu Firnas penemu konsep dasar pesawat. Siswa-siswi dan bahka mahasiswa banyak yang yang tidak mengenal ilmuan muslim seperti tersebut diatas. Sehingga melalui makalah ini, diharapkan dapat memberikan suatu gambaran akan terpuruknya popularitas penemu muslim didunia pendidikan dan masyarakat luas.





RUMUSAN MASALAH
1.      Siapa penemu-penemu muslim yang mampu merubah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi saat ini?
2.      Apa saja temuan ilmuan muslim yang mampu menjadi sebuah konsep bagi kalangan ilmuan selanjutnya?
3.      Bagaimana peran hasil penemuan ilmuan muslim dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini?




















PEMBAHASAN


Ibnu Ismail Al Jazari
Ibnu Ismil Al Jazari adalah ahli teknik Muslim yang ternama di Diyar Bakir, Turki, selama abad kedua belas. Ibnu Ismail Ibnu Al-Razzaz al-Jazari Al Jazari merupakan seorang tokoh besar di bidang mekanika dan industri dan merupakan ahli teknik yang luar biasa pada masanya. Nama lengkapnya adalah Badi Al-Zaman Abullezz Ibnu Alrazz Al-Jazari. Ia dipanggil Al-Jazari karena lahir di Al-Jazira, sebuah wilayah yang terletak di antara sisi utara Irak dan timur laut Syiria, tepatnya antara Sungai tigris dan Efrat Tigris dan Efrat, Irak. Ia mendapat julukan sebagai Bapak Modern Engineering berkat temuan-temuannya yang banyak mempengaruhi rancangan mesin-mesin modern saat ini, diantaranya combustion engine, crankshaft, suction pump, programmable automation, dan banyak lagi. Seperti ayahnya ia mengabdi pada raja-raja Urtuq atau Artuqid di Diyar Bakir dari 1174 sampai 1200 sebagai ahli teknik.
Pada 1206 ia menyelesaikan sebuah karya dalam bentuk buku yang berkaitan dengan dunia teknik. Beliau mendokumentasikan lebih dari 50 karya temuannya, lengkap dengan rincian gambar-gambarnya dalam buku, “al-Jami Bain al-Ilm Wal ‘Aml al-Nafi Fi Sinat ‘at al-Hiyal” (The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices). Bukunya ini berisi tentang teori dan praktik mekanik. Karyanya ini sangat berbeda dengan karya ilmuwan lainnya, karena dengan kepiawaiannya ia membeberkan secara detail hal yang terkait dengan mekanika yaitu bagaimana untuk  merancang, merakit dan membuat berbagai mesin. Dalam tulisannya Al Jazari memberikan gambaran yang begitu detail dan jelas, berbeda dengan ahli teknik  lainnya yang lebih banyak mengetahui teori saja dan menyembunyikan pengetahuannya dari orang lain. Bahkan ia pun menggambarkan metode rekonstruksi peralatan yang ia temukan dan mengilustrasikan dengan miniatur yang menakjubkan. Hal ini merupakan kontribusi yang sangat berharga dalam sejarah teknik.
Di tahun yang sama pula (1206), Al Jazari membuat jam gajah yang bekerja dengan tenaga air dan berat benda untuk menggerakkan secara otomatis sistem mekanis, yang dalam interval tertentu akan memberikan suara simbal dan burung berkicau. Prinsip humanoid automation inilah yang mengilhami pengembangan robot masa sekarang. Kini replika jam gajah tersebut disusun kembali oleh London Science Museum, sebagai bentuk penghargaan atas karya besarnya.
Dengan karya gemilangnya, ilmuwan dan ahli teknik Muslim ini telah membawa masyarakat Islam pada abad ke-12 pada kejayaan. Ia hidup dan bekerja di Mesopotamia selama 25 tahun. Ia mengabdi di istana Artuqid, kala itu di bawah naungan Sultan Nasir al-Din Mahmoud.
Al-Jazari memberikan kontribusi yang penting bagi dunia ilmu pengetahuan dan masyarakat. Mesin pemompa air yang dipaparkan dalam bukunya, menjadi salah satu karya yang inspiratif. Terutama bagi sarjana teknik dari belahan negari Barat.
Mesin pemompa air tersebut merupakan hasil eksplorasi dari Shaduf dan Saqiya. Shaduf dikenal pada masa kuno, baik di Mesir maupun Assyria. Alat ini terdiri dari balok panjang yang ditopang di antara dua pilar dengan balok kayu horizontal. Sementara Saqiya merupakan mesin bertenaga hewan. Mekanisme sentralnya terdiri dari dua gigi. Tenaga binatang yang digunakan adalah keledai maupun unta. Saqiya terkenal pada zaman Roma. Kedua alat tersebut pada zaman dahulu digunakan untuk memompa air dari sumbernya.
Mesin pemompa air ini dirancang  pada abad ketiga belas.Pada abad ini Al Jazari merancang lima mesin sekaligus. Dua mesin pertamanya merupakan modifikasi terhadap Shaduf,  mesin ketiganya adalah pengembangan dari Saqiya di mana tenaga air menggantikan tenaga binatang.
Satu mesin yang sejenis dengan Saqiya diletakkan di Sungai Yazid di Damaskus dan diperkirakan mampu memasok kebutuhan air di rumah sakit yang berada di dekat sungai tersebut. Mesin keempat adalah mesin yang menggunakan balok dan tenaga binatang. Balok digerakkan secara naik turun oleh sebuah mekanisme yang melibatkan gigi gerigi dan sebuah engkol. Mesin ini  merupakan mesin pertama kali yang menggunakan engkol sebagai bagian dari sebuah mesin. Di Eropa hal ini baru terjadi pada abad 15. Dan hal itu dianggap sebagai pencapaian yang luar biasa.
Pasalnya, engkol mesin merupakan peralatan mekanis yang penting setelah roda. Ia menghasilkan gerakan berputar yang terus menerus. Pada masa sebelumnya memang telah ditemukan engkol mesin, namun digerakkan dengan tangan. Tetapi, engkol yang terhubung dengan sistem rod di sebuah mesin yang berputar baru ditemukan pada masa Al Jazari.
Penemuan engkol mesin sejenis itu oleh sejarawan teknologi dianggap sebagai peralatan mekanik yang paling penting bagi orang-orang Eropa yang hidup pada awal abad kelima belas. Bertrand Gille menyatakan bahwa sistem tersebut sebelumnya tidak diketahui dan sangat terbatas penggunaannya.
Pada 1206 engkol mesin yang terhubung dengan sistem rod sepenuhnya dikembangkan pada mesin pemompa air yang dibuat Al-jazari. Ini dilakukan tiga abad sebelum Francesco di Giorgio Martini melakukannya.
Sedangkan mesin kelima, adalah mesin pompa yang digerakkan oleh air yang merupakan peralatan yang memperlihatkan kemajuan lebih radikal. Gerakan roda air yang ada dalam mesin itu menggerakan piston yang saling berhubungan. Kemudian, silinder piston tersebut terhubung dengan pipa penyedot. Dan pipa penyedot selanjutnya menyedot air dari sumber air dan membagikannya ke sistem pasokan air. Pompa ini merupakan contoh awal dari double-acting principle. Taqi al-Din kemudian menjabarkannya kembali mesin kelima dalam bukunya pada abad keenam belas.

Abbas Qasim Ibnu Firnas
          Abbas Qasim Ibnu Firnas (dikenal dengan nama Latin Armen Firman) dilahirkan di Ronda, Spanyol pada tahun 810 M. Dia dikenal sebagai orang Barbar yang ahli dalam bidang kimia dan memiliki karakter yang humanis, kreatif, dan kerap menciptakan barang- barang berteknologi baru saat itu.
Pria yang suka bermain musik dan puisi ini hidup pada saat pemerintahan Khalifah Umayyah di Spanyol (dulu bernama Andalusia). Masa kehidupan Ibnu Firnas berbarengan dengan masa kehidupan musikus Irak, Ziryab. Pada saat itu ia telah menemukan, membangun, dan menguji konsep pesawat terbang. Konsep pesawat terbang Ibnu Firnas inilah yang kemudian dipelajari Roger Bacon 500 tahun setelah Ibn Firnas meletakkan teori-teori dasar pesawat terbang.Konsep dan teori pesawat terbang dikembangkan setelah kurang lebih 200 tahun setelah Bacon atau 700 tahun pasca uji coba Ibnu Firnas.
Pada tahun 852, di bawah pemerintahan khalifah baru Abul Rahman II, Ibnu Firnas membuat sebuah prototipe atau model pesawat terbang dengan meletakkan bulu pada sebuah bingkai kayu. Setelah menyelesaikan model pesawat layang yang dibuatnya, Ibnu Firnas mengundang masyarakat Cordoba untuk datang dan menyaksikan uji coba hasil karyanya tersebut dari menara Masjid Mezquita.
Warga Cordoba saat itu menyaksikan dari dekat menara tempat Ibnu Firnas akan memperagakan temuannya. Namun karena cara meluncur yang kurang baik dan karena lalai menambahkan ekor pada model pesawat layang buatannya, Ibnu Firnas terhempas ke tanah bersama pesawat layang buatannya. Dia pun mengalami cedera punggung yang sangat parah.Cederanya inilah yang memaksa Ibnu Firnas tidak berdaya untuk melakukan ujicoba berikutnya.
Cedera punggung yang tidak kunjung sembuh mengantarkan Ibnu Firnas pada proyek-proyek penelitian di dalam ruangan (laboratorium). Dia melakukan serangkaian penelitian dan pengembangan konsep serta teori dari gejala-gajala alam yang diperhatikannya. Karya-karya baru pun bermunculan dari buah pemikiannya, di antara hasil karyanya yang monumental adalah konsep tentang terjadinya halilintar dan kilat, jam air, serta cara membuat gelas dari garam. Ia juga membuat rantai rangkaian yang menunjukkan pergerakan benda-benda planet dan bintang. Selain itu, Ia pun menunjukkan cara bagaimana memotong batu kristal yang saat itu hanya bisa dilakukan oleh orang-orang Mesir.
Namun sayangnya tidak lama setelah itu, tepatnya pada tahun 888, ia wafat dalam keadaan berjuang menyembuhkan cedera punggung yang diderita akibat kegagalan melakukan ujicoba pesawat layang buatannya.

Jabir Ibnu Hayyan
            Ilmuan kebanggaan umat Islam ini bernama lengkap Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan dan dijuluki “Bapak Kimia Modern”. Ahli kimia Muslim terkemuka di era kekhalifahan yang dikenal di dunia Barat dengan panggilan Geber ini memang sangat fenomenal. Sebab 10 abad sebelum ahli kimia Barat bernama John Dalton (1766-1844)  mencetuskan teori molekul kimia, Jabir Ibnu Hayyan (721M – 815 M) telah menemukannya di abad ke-8 M.Dan hebatnya lagi penemuan dan eksperimennya yang telah berumur 13 abad tersebut masih dijadikan rujukan hingga kini. Dedikasinya dalam pengembangan ilmu kimia sungguh tidak ternilai harganya. Sehingga tidak heran  jika ilmuwan yang juga ahli farmasi ini dinobatkan sebagai “renaissance man” (manusia yang mencerahkan). Asal-usul kesukuan ilmuwan ini tidak terungkap secara jelas. Ada yang mengungkapkan bahwa ilmuwan terkenal ini adalah seorang Arab, dan ada yang mengungkapkan bahwa ilmuwan ini adalah orang Persia. Jabir terlahir di Tus, Khurasan, Iran pada 721 M.
Saat dia terlahir, wilayah Iran berada dalam kekuasaan Dinasti Umayyah. Sang ayah bernama Hayyan Al-Azdi, seorang ahli farmasi berasal dari suku Arab Azd. Pada era kekuasaan Daulah Umayyah, sang ayah hijrah dari Yaman ke Kufah, salah satu kota pusat gerakan Syiah di Irak. Sang ayah merupakan pendukung Abbasiyah yang turut serta menggulingkan Dinasti Umayyah.
Ketika melakukan pemberontakan, Hayyan tertangkap di Khurasan dan dihukum mati. Sepeninggal sang ayah, Jabir dan keluarganya kembali ke Yaman. Jabir kecil pun mulai mempelajari Alquran, matematika, serta ilmu lainnya dari seorang ilmuwan bernama Harbi Al-Himyari.
Setelah Abbasiyah menggulingkan kekuasaan Umayyah, Jabir memutuskan untuk kembali ke Kufah. Di kota Syiah Jabir menimba ilmu dari seorang imam termasyhur bernama Imam Ja’far Shadiq. Selain itu, ia juga sempat belajar dari Pangeran Khalin Ibnu Yazid dan Barmaki Vizier. Setelah berguru pada Barmaki Vizier ia memulai kariernya di bidang kedokteran.
Sejak saat itu, Jabir bekerja keras mengelaborasi kimia di sebuah laboratorium dengan serangkaian eksperimen. Dalam kariernya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Jabari mendasari eksperimen-eksperimen yang dilakukannya secara kuantitatif. Selain itu, instrumen yang digunakan dibuat sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan, dan hewani.
Setelah sempat berkarier di Damaskus, Jabir pun kembali ke Kufah. Dua abad setelah kepulangannya, dalam sebuah penggalian jalan telah ditemukan bekas laboratorium tempat sang ilmuwan berkarya. Dari tempat itu ditemukan peralatan kimianya yang hingga kini masih mempesona serta sebatang emas yang cukup berat.
Begitu banyak sumbangan yang telah dihasilkan Jabir bagi pengembangan kimia. Berkat jasa beliau, ilmu pengetahuan modern bisa mengenal asam klorida, asam nitrat, asam sitrat, asam asetat, tehnik distilasi, dan tehnik kristalisasi. Jabir pulalah yang menemukan larutan aqua regia (dengan menggabungkan asam klorida dan asam nitrat) untuk melarutkan emas.
Tanpa kontribusinya, boleh jadi ilmu kimia tak berkembang pesat seperti saat ini. Ilmu pengetahuan modern sungguh telah berutang budi kepada Jabir yang dikenal sebagai seorang sufi itu. Jabir telah menorehkan sederet karyanya dalam 200 kitab. Sebanyak 80 kitab yang ditulisnya itu mengkaji dan mengupas seluk-beluk ilmu kimia. Sebuah pencapaian yang terbilang amat prestisius.
Keberhasilan penting lainnya yang dicapai Jabir adalah kemampuannya mengaplikasikan pengetahuan mengenai kimia ke dalam proses pembuatan besi dan logam lainnya, serta pencegahan karat. Dan ternyata Jabir jugalah yang  pertama kali mengaplikasikan penggunaan mangan dioksida pada pembuatan gelas kaca dan yang mencatat tentang pemanasan anggur akan menimbulkan gas yang mudah terbakar. Kerena catatan Jabir inilah yang kemudian memberikan jalan bagi Al-Razi untuk menemukan etanol.
Selain itu, Jabir juga berhasil menyempurnakan proses dasar sublimasi, penguapan, pencairan, kristalisasi, pembuatan kapur, penyulingan, pencelupan, pemurnian, sematan (fixation), amalgamasi, dan oksidasi-reduksi. Apa yang dihasilkannya ini merupakan teknik-teknik kimia modern.
Sosok dan pemikiran Jabir begitu berpengaruh bagi para ahli kimia Muslim lainnya seperti Al-Razi (9 M), Tughrai (12 M) dan Al-Iraqi (13 M). Tidak hanya itu, buku-buku yang ditulisnya juga begitu besar pengaruhnya terhadap pengembangan ilmu kimia di Eropa. Jabir wafat  pada tahun 815 M di Kufah.

Abū Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Fārābi
            Ilmuan dan filsuf Islam pertama yang biasa dikenal dengan Al-Farabi atau Abu Nasir al-Farabi atau  Abu Nasr Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Tarkhan Ibn Uzalah Al- Farabi atau Alpharabius atau Farabi atau Abunasir ini berasal dari Farab, Kazakhstan. Akan tetapi, ada yang mengungkapkan bahwa ilmuwan ini berasal dari Turki. Al-Farabi hidup pada daerah otonomi di bawah pemerintahan Sayf al Dawla dan di zaman pemerintahan dinasti Abbasiyyah, yang berbentuk Monarki yang dipimpin oleh seorang Khalifah. Ia lahir dimasa kepemimpinan Khalifah Mu’tamid (869-892 M).
Al-Farabi dikenal dengan sebutan "guru kedua" setelah Aristoteles, karena kemampuannya dalam memahami Aristoteles yang dikenal sebagai guru pertama dalam ilmu filsafat. Ayahnya adalah seorang opsir tentara Turki keturunan Persia, sedangkan ibunya keturunan Turki asli. Sejak kecil ia telah memiliki kecerdasan istimewa dan bakat besar untuk menguasai hampir setiap subyek yang dipelajari. Pada awal pendidikaknnya al-Farabi belajar al-Qur’an, tata bahasa, kesusasteraan, ilmu-ilmu agama (fiqh, tafsir dan ilmu hadits) dan aritmatika dasar.
            Al-Farabi tinggal di Kazakhstan sampai umur 50 th. Waktu muda ia belajar ilmu-ilmu dan musik di Bukhara, kemudian ia pergi ke Baghdad  untuk menuntut ilmu, ia di sana selama 20 tahun. Setelah kurang lebih 10 tahun tinggal di Baghdad. Kurang lebih pada tahun 920 M, al Farabi kemudian mengembara di kota Harran  yang terletak di utara Syria, dimana saat itu Harran merupakan pusat kebudayaan Yunani di Asia kecil. Ia kemudian belajar filsafat dari Filsuf Kristen terkenal yang bernama Yuhana bin Jilad. Dan pada tahun 940M, al Farabi melajutkan pengembaraannya ke Damaskus dan bertemu dengan Sayfal Dawla al Hamdanid, Kepala daerah (distrik) Aleppo, yang dikenal sebagai simpatisan para Imam Syi’ah.
            Al-Farabi adalah filsuf Islam pertama yang berupaya menghadapkan, mempertalikan dan menyelaraskan filsafat politik Yunani klasik dengan Islam serta berupaya membuatnya bisa dimengerti di dalam konteks agama-agama wahyu.
Semasa hidupnya al Farabi banyak berkarya. Ia berkarya dalam bidang Logika, Ilmu-ilmu Matematika, Ilmu Alam, Teologi, Ilmu Politik dan Kenegaraan,serta Bunga Rampai. Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota atau Negara Utama) yang membahas tentang pencapaian kebahagian melalui kehidupan politik dan hubungan antara rezim yang paling baik menurut pemahaman Plato dengan hukum Ilahiah islam.Filsafat politik Al-Farabi, khususnya gagasannya mengenai penguasa kota utama mencerminkan rasionalisasi ajaran Imamah dalam Syi'ah.
Dalam pemikirannya tentang asal-usul negara dan warga negara, Al-Farabi berpendapat bahwa manusia merupakan warga negara yang merupakan salah satu syarat terbentuknya negara. Oleh karena manusia tidak dapat hidup sendiri dan selalu membutuhkan bantuan orang lain, maka manusia menjalin hubungan-hubungan (asosiasi). Kemudian, dalam proses yang panjang, pada akhirnya terbentuklah suatu Negara.
Menurut Al-Farabi, negara atau kota merupakan suatu kesatuan masyarakat yang paling mandiri dan paling mampu memenuhi kebutuhan hidup antara lain: sandang, pangan, papan, dan keamanan, serta mampu mengatur ketertiban masyarakat, sehingga pencapaian kesempurnaan bagi masyarakat menjadi mudah. Negara yang warganya sudah mandiri dan bertujuan untuk mencapai kebahagiaan yang nyata , menurut al-Farabi, adalah Negara Utama.
Sedangkan warga negara menurut al-Farabi merupakan unsur yang paling pokok dalam suatu negara  yang diikuti dengan segala prinsip-prinsipnya yaitu prinsip-prinsip mabadi, yang berarti dasar, titik awal, prinsip, ideologi, dan konsep dasar. Keberadaan warga negara sangat penting karena warga negaralah yang menentukan sifat, corak serta jenis negara. Menurut Al-Farabi perkembangan dan kualitas negara ditentukan oleh warga negaranya. Warga negara berhak memilih seorang pemimpin negara, yaitu seorang yang paling unggul dan paling sempurna di antara mereka.
Sedangkan dalam pemikirannya tentang pemimpin al-Farabi berpendapat bahwa seorang pemimpin negara merupakan bagian yang paling penting dan paling sempurna di dalam suatu negara. Menurut Al Farabi, pemimpin adalah seorang yang disebutnya sebagai filsuf yang berkarakter Nabi yakni orang yang mempunyai kemampuan fisik dan jiwa rasionalitas dan spiritualitas.
Seseorang pemimpin meskipun kualitas lainnya sudah terpenuhi , namun kalau kualitas seorang filsufnya  tidak terpenuhi atau tidak ambil bagian dalam suatu pemerintahan, maka Negara Utama tersebut bagai “kerajaan tanpa seorang Raja”. Oleh karena itu, Negara dapat berada diambang kehancuran.
Al-Farabi meninggal pada masa pemerintahan Khalifah Al-Muthi’ (946-974 M) dimana periode tersebut dianggap sebagai periode yang paling kacau karena ketiadaan kestabilan politik.

Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa Al-Khwarizmi
Kata algoritma berasal dari  nama penulis buku Arab terkenal, yaitu Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa Al-Khuwarizmi yang biasa dibaca oleh orang Barat menjadi Algorism. Algoritma adalah langkah-langkah penyelesaian suatu masalah yang disusun secara sistematis dan logis. Contoh sederhana adalah penyusunan sebuah resep makanan, yang biasanya terdapat langkah-langkah cara memasak masakan tersebut. Tapi, algoritma umumnya digunakan untuk membuat diagram alur flowchart dalam ilmu komputer / informatika.
            Algoritma pertama kali ditemukan oleh seorang ahli matematika dari uzbekistan yang bernama Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa al-Khwarizmi. Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa al-Khwarizmi biasa dipanggil dengan sebutan Algorism. Dan panggilan inilah yang kemudian dipakai untuk menyebut konsep algoritma yang ditemukannya.
Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa al-Khwarizmi lahir di Khwarizm (Kheva), kota di selatan sungai Oxus (sekarang Uzbekistan) pada tahun 770 M. Kedua orangtuanya kemudian pindah ke sebuah tempat di selatan kota Baghdad (Irak), ketika ia masih kecil. Khwarizm dikenal sebagai orang yang memperkenalkan konsep algoritma dalam matematika, konsep yang diambil dari nama belakangnya.
Al khwarizmi juga seorang penemu dari beberapa cabang ilmu matematika yang dikenal sebagai astronom dan geografer. Ia adalah salah satu ilmuwan matematika terbesar yang pernah hidup, dan tulisan-tulisannya sangat berpengaruh pada zamannya. Salah satu temuannya adalah Teori aljabar. Nama aljabar diambil dari bukunya yang terkenal dengan judul “Al Jabr Wa Al Muqabilah”. Ia juga mengembangkan tabel rincian trigonometri yang memuat fungsi sinus, kosinus dan kotangen serta konsep diferensiasi.
Pengaruhnya dalam perkembangan matematika, astronomi dan geografi tidak diragukan lagi dalam catatan sejarah. Pendekatan yang dipakainya menggunakan pendekatan sistematis dan logis. Ia memadukan pengetahuan dari Yunani dengan Hindu ditambah idenya sendiri dalam mengembangkan matematika. Khwarizm mengadopsi penggunaan angka nol, dalam ilmu aritmetik dan sistem desimal.
Beberapa bukunya banyak diterjemahkan kedalam bahasa latin pada awal abad ke-12, oleh dua orang penerjemah terkemuka yaitu Adelard Bath dan Gerard Cremona. Risalah-risalah aritmetikanya, seperti “Kitab al-Jam’a wal-Tafreeq bil Hisab al-Hindi”, “Algebra”, “Al-Maqala fi Hisab-al Jabr wa-al-Muqabilah”, hanya dikenal dari translasi berbahasa latin. Buku-buku itu terus dipakai hingga abad ke-16 sebagai buku pegangan dasar oleh universitas-universitas di Eropa. Buku geografinya yang  berjudul “Kitab Surat-al-Ard” yang memuat peta-peta dunia pun telah diterjemahkan kedalam bahasa Inggris.
Buah pikir Khwarizmi di bidang geografi juga sangat mengagumkan. Dia tidak hanya merevisi pandangan Ptolemeus dalam geografi tetapi malah memperbaiki beberapa bagiannya. Tujuh puluh orang geografer pernah bekerja dibawah kepemimpinan Al khwarizmi ketika membuat peta dunia pertama di tahun 830 M. Ia dikisahkan pernah pula menjalin kerjasama dengan Khalifah Mamun Al-Rashid ketika menjalankan proyek untuk mengetahui volume dan lingkar bumi. Abu Abdullah Muhammad Ibnu Musa Al-Khuwarizmi wafat pada tahun 840 M.

Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina
Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina  yang biasa dikenal dengan sebutan Ibnu Sina atau Aviciena dan yang dianggap banyak orang sebagai “Bapak Kedokteran Dunia” ini lahir pada tahun 370 hijriyah di sebuah desa bernama Khormeisan dekat Bukhara. Sejak masa kanak-kanak, Ibnu Sina yang berasal dari keluarga bermadzhab Ismailiyah sudah akrab dengan pembahasan ilmiah terutama yang disampaikan oleh ayahnya. Kecerdasannya yang sangat tinggi membuatnya sangat menonjol sehingga salah seorang guru menasehati ayahnya agar Ibnu Sina tidak terjun ke dalam pekerjaan apapun selain belajar dan menimba ilmu.
Oleh karena itu, Ibnu Sina secara penuh memberikan perhatiannya kepada aktivitas keilmuan. Kejeniusannya membuat ia cepat menguasai banyak ilmu, dan meski masih berusia muda, beliau sudah mahir dalam bidang kedokteran. Beliau pun menjadi terkenal, sehingga Raja Bukhara Nuh bin Mansur yang memerintah pada tahun 366 -387 hijriyah saat jatuh sakit memanggil Ibnu Sina untuk merawat dan mengobatinya.
Berkat itu, Ibnu Sina dapat leluasa masuk ke perpustakaan istana Samani yang besar. Di perpustakaan tersebut Ibnu Sina menemukan banyak buku yang ia inginkan, bahkan ia menemukan banyak buku yang kebanyakan orang tidak pernah mengetahui isinya. Di sana Ibnu Sina dengan giat membaca kitab-kitab dan memanfaatkannya semaksimal mungkin. Sehingga tidak heran jika pada usianya menginjak 18 tahun ia telah berhasil menyelesaikan semua bidang ilmu. Ia menguasai berbagai macam ilmu,di antaranya adalah ilmu hikmah, mantiq, dan matematika dengan berbagai cabangnya.
Ketika berada di istana Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menulis “kitab Qanun“ yang berisi tentang ilmu kedokteran dan menulis ensiklopedia filsafatnya yang diberi nama “kitab Al-Syifa’ ”. Namun ketika bepergian beliau hanya menulis buku-buku kecil yang disebut dengan risalah. Saat berada di dalam penjarapun, Ibnu Sina menyibukkan diri dengan menggubah bait-bait syair, dan menulis perenungan agamanya dengan metode yang indah.
Di antara buku-buku dan risalah yang ditulisnya, kitab al-Syifa’  yang berisi tentang filsafat dan kitab Qanun yang berisi tentang  ilmu kedokteran telah dikenal di sepanjang massa. Al-Syifa’ ditulis dalam 18 jilid yang membahas ilmu filsafat, mantiq, matematika, ilmu alam dan ilahiyyat. Mantiq al-Syifa’ saat ini dikenal sebagai buku yang paling otentik dalam ilmu mantiq islami, sementara pembahasan ilmu alam dan ilahiyyat dari kitab al-Syifa’ sampai saat ini juga masih menjadi bahan telaah.
Dalam ilmu kedokteran, kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling otentik. Kitab ini mengupas kaedah-kaedah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 M, kitab Al-Qanun karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Kini buku tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Al-Qanun adalah kitab kumpulan metode pengobatan purba dan metode pengobatan Islam. Kitab ini pernah menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di universitas-universitas Eropa.
Ibnu Sina  memiliki peran besar dalam mengembangkan berbagai bidang keilmuan. Beliau menerjemahkan karya Aqlides dan menjalankan observatorium untuk ilmu perbintangan. Dalam masalah energi Beliau memberikan hasil penelitiannya akan masalah ruangan hampa, cahaya dan panas kepada khazanah keilmuan dunia. Ia juga telah menulis sebuah karya tulis dalam bahasa Latin yang berjudul “De Conglutineation Lagibum”. Dalam salah satu babnya beliau membahas tentang asal nama gunung-gunung. Pembahasan ini sungguh menarik. Di sana beliau berpendapat bahwa gunung kemungkinan besar tercipta karena dua penyebab, yaitu mungkin karena menggelembungnya kulit luar bumi dan ini terjadi lantaran goncangan hebat gempa dan mungkin juga karena proses air yang mencari jalan untuk mengalir sehingga memunculkan lembah-lembah dan menggelembungkan permukaan bumi.
Ibnu Sina memiliki logika yang kuat sehingga beliau dapat mengikuti berbagai teori matematika bahkan dalam kedokteran dan proses pengobatan. Beliau juga dikenal sebagai filosof  yang tidak  tertandingi.
Selama hidupnya beliau mengalami dua periode penting yaitu peride ketika beliau mengikuti faham filsafat paripatetik dan periode ketika beliau menarik diri dari faham paripatetik dan memilih cenderung kepada pemikiran iluminasi.
Berkat mempelajari filsafat dari filosof sebelumnya misalnya Al-kindi dan Farabi, beliau berhasil menyusun sistem filsafat islam yang terkoordinasi dengan rapi. Pekerjaan besar yang dilakukannya adalah menjawab berbagai persoalan filsafat yang tidak terjawab sebelumnya. Salah satu filsafat karyanya yaitu filsafat metafisika yang berisi ringkasan dari tema-tema filosofis yang kebenarannya diakui dua abad setelahnya oleh para pemikir Barat.
Ibnu Sina wafat pada tahun 428 hijriyah pada usia 58 tahun. Beliau wafat setelah menyumbangkan banyak hal kepada khazanah keilmuan umat manusia dan namanya akan selalu dikenang sepanjang sejarah. Ibnu Sina adalah contoh dari peradaban besar Iran di zamannya.

Al-Kindi

Nama lengkap al-Kindi adalah Abu Yusuf Ya`qub ibn Ishaq ibn Shabbah ibn Imran ibn Isma`il ibn Muhammad ibn al-Asy’ath ibn Qais al-Kindi. Tahun kelahiran dan kematian beliau tidak diketahui secara jelas. Yang jelas ia hidup pada masa kekhalifahan al-Amin (809-813), al-Ma’mun (813-833), al-Mu’tasim (833-842), al-Wathiq (842-847), dan al-Mutawakkil (847-861).
Al-Kindi hidup pada masa penerjemahan besar-besaan karya-karya Yunani ke dalam bahasa Arab. Dan sejak didirikannya Bayt al-Hikmah oleh al-Ma’mun, beliau sendiri turut aktif dalam kegiatan penerjemahan. Di samping menerjemah, beliau juga memperbaiki terjemahan-terjemahan sebelumnya. Karena keahlian dan keluasan pandangannya, ia diangkat sebagai ahli di istana dan menjadi guru putra Khalifah al-Mu’tasim yang bernama Ahmad.
Beliau adalah seorang filosof berbangsa Arab dan dipandang sebagai filosof Muslim pertama. Memang, secara etnis, beliau lahir dari keluarga berdarah Arab yang berasal dari suku Kindah, salah satu suku besar daerah Jazirah Arab Selatan.
Salah satu kelebihan al-Kindi adalah menghadirkan filsafat Yunani kepada kaum Muslimin setelah terlebih dahulu mengislamkan pikiran-pikiran asing tersebut. Beliau juga telah menulis hampir seluruh ilmu pengetahuan yang berkembang pada saat itu. Tetapi, di antara sekian banyak ilmu, ia sangat menghargai matematika. Hal ini disebabkan karena matematika bagi beliau adalah mukaddimah bagi siapa saja yang ingin mempelajari filsafat. Mukaddimah ini begitu penting sehingga tidak mungkin bagi seseorang untuk mencapai keahlian dalam filsafat tanpa terlebih dulu menguasai matematika. Matematika di sini meliputi ilmu tentang bilangan, harmoni, geometri dan astronomi.
Yang paling utama dari seluruh cakupan matematika adalah ilmu bilangan atau aritmatika karena jika bilangan tidak ada, maka tidak akan ada sesuatu apapun. Sehingga kita bisa melihat samar-samar pengaruh filsafat Pitagoras.
Al-Kindi membagi daya jiwa menjadi tiga: daya bernafsu (appetitive), daya pemarah (irascible), dan daya berpikir (cognitive atau rational). Sebagaimana Plato, ia membandingkan ketiga kekuatan jiwa ini dengan mengibaratkan daya berpikir sebagai sais kereta dan dua kekuatan lainnya (pemarah dan nafsu) sebagai dua ekor kuda yang menarik kereta tersebut. Jika akal budi dapat berkembang dengan baik, maka dua daya jiwa lainnya dapat dikendalikan dengan baik pula. Orang yang hidupnya dikendalikan oleh dorongan-dorongan nafsu birahi dan amarah diibaratkannya seperti anjing dan babi, sedang bagi mereka yang menjadikan akal budi sebagai tuannya, mereka diibaratkan sebagai raja.
Menurut al-Kindi, fungsi filsafat sesungguhnya bukan untuk menggugat kebenaran wahyu atau untuk menuntut keunggulan yang lancang atau menuntut persamaan dengan wahyu. Filsafat haruslah sama sekali tidak mengajukan tuntutan sebagai jalan tertinggi menuju kebenaran dan mau merendahkan dirinya sebagai penunjang bagi wahyu. Beliau mendefinisikan filsafat sebagai pengetahuan tentang segala sesuatu sejauh jangkauan pengetahuan manusia. Oleh karena itu, al-Kindi dengan tegas mengatakan bahwa filsafat memiliki keterbatasan dan bahwa ia tidak dapat mengatasi problem semisal mukjizat, surga, neraka, dan kehidupan akhirat. Dalam semangat ini pula, beliau mempertahankan penciptaan dunia ex nihilio, kebangkitan jasmani, mukjizat, keabsahan wahyu, dan kelahiran dan kehancuran dunia oleh Tuhan.

Ibnu Haitham

Abu Ali Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham atau Ibnu Haitam yang biasa dikenal dengan sebutan Alhazen oleh para cerdik pandai Barat, adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Ia juga banyak melakukan penyelidikan mengenai cahaya, dan telah memberikan ilham kepada ahli sains Barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop.
Ibnu Haitham dilahirkan di Basrah pada tahun 354 H atau pada tahun 965 M. Ia awalnya menimba ilmu di Basrah sebelum kemudian dilantik menjadi pegawai pemerintah di bandar kelahirannya. Setelah beberapa lama mengabdi dengan pihak pemerintah di sana, beliau mengambil keputusan untuk merantau ke Ahwaz dan Baghdad. Di perantauan beliau melanjutkan pengkajian dan menumpukan perhatian pada penulisan.
Kecintaannya kepada ilmu membawanya berhijrah ke Mesir. Selama di Mesir beliau melakukan beberapa kerja penyelidikan mengenai aliran dan saliran Sungai Nil serta menyalin buku-buku mengenai matematika dan falak. Tujuannya adalah untuk mendapatkan uang cadangan dalam menempuh perjalanan menuju Universitas Al-Azhar.
Karena usahanya tersebut beliau menjadi o­rang yang mahir dalam bidang sains, falak, mate­matik, geometri, pengobatan, dan falsafah. Tulisannya mengenai mata, telah menjadi salah satu rujukan yang penting dalam bidang pengajian sains di Barat. Bahkan tulisannya mengenai pengobatan mata telah menjadi  asas kepada pengkajiian pengobatan modern mengenai mata.
Ibnu Haitham merupakan ilmuwan yang gemar melakukan penyelidikan. Ia merupakan orang pertama yang menulis dan menemukan perbagai data penting mengenai cahaya.
Beberapa buku mengenai cahaya yang ditulisnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, antaranya ialah “Light” dan “On Twilight Phenomena”. Kajiannya banyak membahaskan mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana.
Menurut Ibnu Haitham, cahaya fajar bermula apabila mata­hari berada di garis 19 darjah di ufuk Timur. Warna merah pada senja pula akan hilang apabila mata­hari berada di garis 19 darjah ufuk Barat. Dalam kajiannya, beliau juga telah menemukan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya.
Ibnu Haitham juga melakukan percobaan terhadap kaca yang dibakar dan dari situ kemudian dihasilkan teori lensa pembesar. Teori iti telah digunakan oleh para saintis di Itali untuk menghasilkan kaca pembesar yang pertama di dunia.
Yang lebih menakjubkan lagi ialah Ibnu Haitham telah menemukan prinsip isi padu udara sebelum seorang saintis yang bernama Trricella mengetahui perkara itu 500 tahun kemudian. Ibnu Haitham juga telah menemui kewujudan tarikan graviti sebelum Issaac Newton mengetahuinya. Selain itu, teori Ibnu Haitham mengenai jiwa manusia sebagai satu rentetan perasaan yang bersambung-sambung secara teratur telah memberikan ilham kepada saintis barat untuk menghasilkan wayang gambar. Teori beliau telah membawa kepada penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton sebagaimana yang dapat kita lihat sekarang ini.
Selain di bidang sains, Ibnu Haitham juga banyak menulis mengenai falsafah, logik, metafizik, dan persoalan yang berkaitan dengan keagamaan. Ia turut menulis ulasan dan ringkasan terhadap karya-karya sarjana terdahulu.
Penulisan falsafahnya banyak tertumpu kepada aspek kebenaran dalam masalah yang menjadi pertikaian. Padanya pertikaian dan pertelingkahan mengenai sesuatu perkara berpuncak dari pendekatan yang digunakan dalam mengenalinya.
Beliau juga berpendapat bahwa kebenaran hanyalah satu. Oleh sebab itu semua dakwaan kebenaran wajar diragukan dalam menilai semua pandangan yang ada.
Bagi Ibnu Haitham, falsafah tidak boleh dipisahkan daripada matematik, sains, dan ketuhanan. Ketiga-tiga bidang dan cabang ilmu ini harus dikuasai dan untuk menguasainya seseorang itu perlu menggunakan waktu mudanya dengan sepenuhnya. Apabila umur semakin meningkat, kekuatan fisikal dan mental akan turut mengalami kemerosotan.
Ibnu Haitham telah menghasilkan banyak buku dan makalah. Beberrapa karyanya tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Al'Jami' fi Usul al'Hisab yang mengandungi teori-teori ilmu metametik dan metametik penganalisaannya;
  2. Kitab al-Tahlil wa al'Tarkib mengenai ilmu geometri;
  3. Kitab Tahlil ai'masa^il al 'Adadiyah tentang algebra;
  4. Maqalah fi Istikhraj Simat al'Qiblah yang mengupas tentang arah kiblat bagi segenap rantau;
  5. M.aqalah fima Tad'u llaih mengenai penggunaan geometri dalam urusan hukum syarak dan
  6. Risalah fi Sina'at al-Syi'r mengenai teknik penulisan puisi.
Sumbangan Ibnu Haitham kepada ilmu sains dan falsafah sangat banyak. Karena itulah Ibnu Haitham dikenali sebagai seorang yang miskin dari segi material tetapi kaya dengan ilmu pengetahuan. Beberapa pandangan dan pendapatnya masih relevan sampai sekarang.
Namun sebagian karyanya telah "dicuri" dan "diceduk" oleh ilmuwan Barat tanpa memberikan penghargaan yang sewajarnya kepada beliau. Sesungguhnya orang-orang Barat patut berterima kasih kepada Ibnu Haitham dan para sarjana Islam karena tanpa mereka kemungkinan dunia Eropa masih diselubungi dengan kegelapan.
Kajian Ibnu Haitham telah menyediakan landasan kepada perkembangan ilmu sains dan pada masa yang sama tulisannya mengenai falsafah telah membuktikan keaslian pemikiran sarjana Islam dalam bidang ilmu tersebut yang tidak lagi dibelenggu oleh pemikiran falsafah Yunani.


       
Al-Jahiz
Al-Jahiz lahir di Basra, Irak pada 781 M. Nama aslinya adalah Abu Uthman Amr ibn Bahr al-Kinani al-Fuqaimi al-Basri. Al-Jahiz adalah orang yang berdarah Arab Negro dari Timur Afrika. Kakek beliau adalah seorang seorang budak  Negro (Zanj). Beliau adalah seorang ahli zoologi terkemuka dari Basra, Irak. Beliau merupakan ilmuwan Muslim pertama yang mencetuskan dan mengembangkan teori evolusi. Pencetusannya berpengaruhnya sangat luas di kalangan ahli zoologi Muslim dan Barat. Jhon William Draper, ahli biologi Barat yang sezaman dengan Charles Darwin pernah berujar, ”Teori evolusi yang dikembangkan umat Islam lebih jauh dari yang seharusnya kita lakukan. Para ahli biologi Muslim sampai meneliti berbagai hal tentang anorganik serta mineral.”
Ilmuwan dari abad ke-9 M iti mengungkapkan dampak lingkungan terhadap kemungkinan seekor binatang untuk tetap bertahan hidup. Sejarah peradaban Islam mencatat, Al-Jahiz sebagai ahli biologi pertama yang mengungkapkan teori berjuang untuk tetap hidup (struggle for existence). Untuk dapat bertahan hidup, menurut dia, makhluk hidup harus berjuang, seperti yang pernah dialaminya semasa hidup. Beliau dilahirkan dan dibesarkan di keluarga miskin. Meskipun harus berjuang membantu perekonomian keluarga yang morat-marit dengan menjual ikan, ia tidak putus sekolah dan rajin berdiskusi di masjid tentang sains. Beliau bersekolah hingga usia 25 tahun. Di sekolah, beliau mempelajari banyak hal, seperti puisi Arab, filsafat Arab, sejarah Arab dan Persia sebelum Islam, serta Al-Qur’an dan hadist.
Al-Jahiz juga merupakan penganut awal determinisme lingkungan. Menurutnya, lingkungan dapat menentukan karakteristik fisik penghuni sebuah komunitas tertentu. Asal usul beragamnya warna kulit manusia terjadi akibat hasil dari lingkungan tempat mereka tinggal. Berkat teori-teori yang begitu cemerlang, Al-Jahiz pun dikenal sebagai ahli biologi terbesar yang pernah lahir di dunia Islam. Ilmuwan yang amat tersohor di kota Basra, Irak iti berhasil menuliskan kitab “Ritab Al-Haywan (Buku tentang Binatang)”. Dalam kitab tersebut dia menulis tentang kuman, teori evolusi, adaptasi, dan psikologi binatang.
Al-Jahiz pun tercatat sebagai ahli biologi pertama yang mencatat perubahan hidup burung melalui migrasi. Tidak hanya itu, pada abad ke-9 M  Al-Jahiz telah mampu menjelaskan metode memperoleh ammonia dari kotoran binatang melalui penyulingan. Sosok dan pemikiran Al-Jahiz pun begitu berpengaruh terhadap ilmuwan Persia, Al-Qazwini, dan ilmuwan Mesir, Al-Damiri. Karirnya sebagai penulis diawalinya dengan menulis artikel ketika ia masih di Basra. Sejak saat itu, ia terus menulis hingga menghasilkan dua ratus buku semasa hidupnya.
Pada abad ke-11, Khatib al-Baghdadi menuduh Al-Jahiz memplagiat sebagian pekerjaannya dari Kitab al-Hayawan of Aristotle. Selain al-Hayawan, beliau juga menulis kitab al-Bukhala (Book of Misers or Avarice & the Avaricious), Kitab al-Bayan wa al-Tabyin (The Book of eloquence and demonstration), Kitab Moufakharat al Jawari wal Ghilman (The book of dithyramb of concubines and ephebes), dan Risalat mufakharat al-sudan ‘ala al-bidan (Superiority Of The Blacks To The Whites).
Suatu ketika, pada tahun 816 M ia pindah ke Baghdad. Beliau  meninggal setelah lima puluh tahun menetap di Baghdad pada tahun 869, ketika ia berusia 93 tahun.













PENUTUP

Simpulan
Pada zaman dahulu, ternyata orang-orang muslim mampu melakukan penemuan-penemuan yang saat ini banyak dikembangkan. Tokoh-tokoh penemu muslim diantaranya adalah  Ibnu Ismail Ibnu Al-Razzaz al-Jazari Al Jazari yakni seorang tokoh besar di bidang mekanika, industri, dan merupakan ahli teknik yang luar biasa pada masanya. Kemudian Abbas Qasim Ibnu Firnas (dikenal dengan nama Latin Armen Firman) dikenal sebagai orang Barbar yang ahli dalam bidang kimia dan memiliki karakter yang humanis, kreatif, dan kerap menciptakan barang- barang berteknologi baru saat itu. Masa kehidupan Ibnu Firnas berbarengan dengan masa kehidupan musikus Irak, Ziryab. Pada saat itu ia telah menemukan, membangun, dan menguji konsep pesawat terbang. Konsep pesawat terbang Ibnu Firnas inilah yang kemudian dipelajari Roger Bacon 500 tahun setelah Ibn Firnas meletakkan teori-teori dasar pesawat terbang.
Ilmuan kebanggaan umat Islamselanjutnya bernama Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan dan dijuluki “Bapak Kimia Modern”. Ahli kimia Muslim terkemuka di era kekhalifahan yang dikenal di dunia Barat dengan panggilan Geber ini memang sangat fenomenal. Sebab 10 abad sebelum ahli kimia Barat bernama John Dalton (1766-1844)  mencetuskan teori molekul kimia, Jabir Ibnu Hayyan (721M – 815 M) telah menemukannya di abad ke-8 M.Dan hebatnya lagi penemuan dan eksperimennya yang telah berumur 13 abad tersebut masih dijadikan rujukan hingga kini. Dedikasinya dalam pengembangan ilmu kimia sungguh tidak ternilai harganya. Sehingga tidak heran  jika ilmuwan yang juga ahli farmasi ini dinobatkan sebagai “renaissance man” (manusia yang mencerahkan). Lalu ilmuan dan filsuf Islam pertama yang biasa dikenal dengan Al-Farabi atau Abu Nasir al-Farabi atau  Abu Nasr Muhammad Ibnu Muhammad Ibnu Tarkhan Ibn Uzalah Al- Farabi atau Alpharabius atau Farabi atau Abunasir ini berasal dari Farab, Kazakhstan. Akan tetapi, ada yang mengungkapkan bahwa ilmuwan ini berasal dari Turki. Semasa hidupnya al Farabi banyak berkarya. Ia berkarya dalam bidang Logika, Ilmu-ilmu Matematika, Ilmu Alam, Teologi, Ilmu Politik dan Kenegaraan,serta Bunga Rampai. Karyanya yang paling terkenal adalah Al-Madinah Al-Fadhilah (Kota atau Negara Utama) yang membahas tentang pencapaian kebahagian melalui kehidupan politik dan hubungan antara rezim yang paling baik menurut pemahaman Plato dengan hukum Ilahiah islam.Filsafat politik Al-Farabi, khususnya gagasannya mengenai penguasa kota utama mencerminkan rasionalisasi ajaran Imamah dalam Syi'ah.
Ilmu Algoritma pertama kali ditemukan oleh seorang ahli matematika dari uzbekistan yang bernama Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa al-Khwarizmi. Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa al-Khwarizmi biasa dipanggil dengan sebutan Algorism. Dan panggilan inilah yang kemudian dipakai untuk menyebut konsep algoritma yang ditemukannya. Abu Ali Husein bin Abdillah bin Hasan bin Ali bin Sina  yang biasa dikenal dengan sebutan Ibnu Sina atau Aviciena dan yang dianggap banyak orang sebagai “Bapak Kedokteran Dunia”. Dalam ilmu kedokteran, kitab Al-Qanun tulisan Ibnu Sina selama beberapa abad menjadi kitab rujukan utama dan paling otentik. Kitab ini mengupas kaedah-kaedah umum ilmu kedokteran, obat-obatan dan berbagai macam penyakit. Seiring dengan kebangkitan gerakan penerjemahan pada abad ke-12 M, kitab Al-Qanun karya Ibnu Sina diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Kini buku tersebut juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis dan Jerman. Al-Qanun adalah kitab kumpulan metode pengobatan purba dan metode pengobatan Islam. Kitab ini pernah menjadi kurikulum pendidikan kedokteran di universitas-universitas Eropa.
Al-Kindi yang bernama lengkap Abu Yusuf Ya`qub ibn Ishaq ibn Shabbah ibn Imran ibn Isma`il ibn Muhammad ibn al-Asy’ath ibn Qais al-Kindi. Beliau adalah seorang filosof berbangsa Arab dan dipandang sebagai filosof Muslim pertama. Memang, secara etnis, beliau lahir dari keluarga berdarah Arab yang berasal dari suku Kindah, salah satu suku besar daerah Jazirah Arab Selatan. Salah satu kelebihan al-Kindi adalah menghadirkan filsafat Yunani kepada kaum Muslimin setelah terlebih dahulu mengislamkan pikiran-pikiran asing tersebut. Beliau juga telah menulis hampir seluruh ilmu pengetahuan yang berkembang pada saat itu. Setelah itu ilmuan Abu Ali Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham atau Ibnu Haitam yang biasa dikenal dengan sebutan Alhazen oleh para cerdik pandai Barat, adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Ia juga banyak melakukan penyelidikan mengenai cahaya, dan telah memberikan ilham kepada ahli sains Barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop. Ilmuan yang terakhir dalam makalah ini adalah Abu Uthman Amr ibn Bahr al-Kinani al-Fuqaimi al-Basri. Al-Jahiz adalah orang yang berdarah Arab Negro dari Timur Afrika. Kakek beliau adalah seorang seorang budak  Negro (Zanj). Beliau adalah seorang ahli zoologi terkemuka dari Basra, Irak. Beliau merupakan ilmuwan Muslim pertama yang mencetuskan dan mengembangkan teori evolusi. Pencetusannya berpengaruhnya sangat luas di kalangan ahli zoologi Muslim dan Barat. Jhon William Draper, ahli biologi Barat yang sezaman dengan Charles Darwin pernah berujar, ”Teori evolusi yang dikembangkan umat Islam lebih jauh dari yang seharusnya kita lakukan. Para ahli biologi Muslim sampai meneliti berbagai hal tentang anorganik serta mineral.”

Saran
            Makalah tentang ilmuan-ilmuan muslim ini, mungkin masih terdapat kesalahan dan kekurangan dalam keterangan tentang ilmuan muslim. Akan tetapi, tulisan ini sudah cukup memberikan pengatahuan pada pembaca tentang ilmuan serta penemu muslim pada zaman dahulu. Karena dalam makalah ini juga sudah memberikan keterangan yang jelas tentang ilmuan dan temuan atau keahlian dari hasil temuan ilmuan tersebut. Kami juga masih membuka saran dan kritik yang membangun, agar makalah kami selanjutnya dapat lebih baik dari ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan dapat sebagai referensi bagi pembaca.






DAFTAR PUSTAKA

featherapocalypse. 2011. http ://featherapocalypse.wordpress.com/tag/ilmuwan-muslim-2/. Diunduh pada hari jumat, 14 oktober 2011 pukul 14.25 WIB

Perdana, Arif. 2008. http://arifperdana.wordpress.com/2008/01/13/ibu-ismail-al-jazari-ilmuwan-muslim-penemu-konsep-robotika-modern/. Diunduh pada hari jumat, 14 oktober 2011 pukul  14.35 WIB


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar